|

Buletin Muslimuda - Edisi 01/Th.I/Muharram 1431H Sobat Muslim, tak terasa ya waktu terus berjalan. Detik-detik tahun 2010 sudah di depan mata. Padahal rasanya baru saja kemarin 2007, 2008, 2009, eh kini udah dua puluh sepuluh alias 2010. Waktu emang berjalan mengalir begitu saja, tanpa bisa direm. Walaupun pake rem cakram sekelas motornya Valentino Rossi yang lagi ngebut, detik perjalanan waktu gak bisa dihentiin. Kecuali, kalo detaknya jarum jam dinding, bisa dimatiin. Tinggal dilemparkan aja jamnya ke tembok, dijamin bakalan hancur. Tapi bukan berarti waktu berhenti. Siang ternyata berlalu, diganti malam. Malam berlalu berganti siang. Demikianlah tiap hari terus silih berganti. Itulah waktu. So, rugi banget deh, kalo saban memasuki tahun baru kita malah melupakan arti dari setiap pergantian tahun itu.
Tahun baru, Maksiyat Baru?
Ngomongin soal tahun baruan, selalu saja dihiasi dengan pesta meriah hanya untuk menanti tengnya jam 00.00 yang menunjukkan masuknya tanggal 1 Januari. Kini tahun baruan udah menjadi hari raya. Ya, bukan saja bagi pemeluk agama tertentu, tetapi tahun baruan pun dimeriahkan pula oleh kaum Muslim, termasuk oleh para remajanya.
“Menurut gue sih, ya musti lah... qta wajib mengadakan party2 dalam rangka menyambut datangnya taon baruan,” kata Irwan, alumni sebuah sekolah kejuruan. Beda lagi dengan Feiy, menurutnya gak perlu, karena tahun baru yang akan dirayakan bukan tahun baru Islam. “Tapi keluarga suka ngerayain dengan cara refreshing atau menginap di villa,” tambahnya.
Yang jelas, tahun baruan dirayakan juga oleh sebagian besar orang Islam. Acaranya beragam, mulai sekedar kumpul-kumpul bareng teman atawa keluarga, makan-makan, hingga rame-rame pergi untuk menikmati pesta hiburan, sampe larut malam. Bahkan ada juga yang dilanjutkan hingga subuh, persis malam takbiran. Bedanya, kalo malam takbiran menggemakan keagungan Sang Pencipta, tahun baruan bersenang-senang dan berhura-hura. Niup terompet, udah menjadi kewajiban, ibarat bedung di hari lebaran. Wajib ditiup kalo dah teng jam 12.00. Begitu juga pesta kembang api, dor dar sana sini. Terkadang bikin panas kuping orang yang tertidur pulas.
Jujur sobat, pesta tahun baruan lebih banyaknya menggiring kita untuk berbuat maksiyat. Apalagi kalo ada event khusus yang disponsori oleh para kapitalis (alias yang punya duit). Pesta musik, hiburan, dan hura-hura digelar untuk meraup untung dari pergantian tahun tersebut. Kebanyakan penuh dengan maksiyat, mulai dari campur baur cowok cewek, mengumbar aurat, hingga berbuat suka-suka.
Saat tahun baruan, sebagian anak muda merasa dikasih fasilitas. Mereka rame-rame pergi untuk bersenang-senang. Tak sedikit diantara mereka membawa pasangannya masing-masing. Apalagi yang bawa motor, makhluk tertentu siap nangklok di belakang. Gaswat bro, ada vampire yang siap menghisap darahmu. Katanya sih gak afdhol kalo gak bawa temen lawan jenis tuh. Apalagi di hari spesial. Padahal mereka belum pada punya SIM alias Surat Izin Menikah. Bisa berabe tuh. Mustinya kan ditilang. Tapi di zaman yang rusak ini, perbuatan haram tersebut malah dibiarkan. Akhirnya menjamur deh bak lumpur lapindo yang terus melahap sidoarjo. Duh...!
Biar gak salah jalan, kamu musti tahu tuh sebenarnya budaya ngerayain tahun baru itu dari mana sih? Kamu juga musti tahu hukumnya menurut agama kita boleh apa gak boleh. Cuz, dalam kaidah ushul fiqh, disebutkan bahwa ”asal perbuatan itu terikat pada hukum syara’”. Artinya, sebelum berbuat, kita musti tahu dulu hukumnya: boleh, wajib, sunnah, makruh atawa malah haram. Eit, tapi bukan berarti kalo udah tahu hukumnya lalu kamu mengabaikannya. Tahu sih perbuatan itu haram, eh dijalanin aja. Kalo haram ya tinggalin karena bakal jadi dosa. Bisa kwalat coy, ntar masuk neraka!
Perayaan Tahun Baru Masehi: Budaya Sampah
Tahun baru itu suatu perayaan yang menandakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Kalender Romawi kuno menggunakan tanggal 1 Maret sebagai Hari Tahun Baru. Belakangan, orang Romawi Kuno menggunakan tanggal 1 Januari sebagai awal tahun yang baru. Pada Abad Pertengahan, kebanyakan negara-negara Eropa menggunakan tanggal 25 Maret, hari raya umat Kristen yang disebut Hari Kenaikan Tuhan, sebagai awal tahun yang baru. Hingga tahun 1600, kebanyakan negara-negara Barat telah menggunakan sistem penanggalan yang telah direvisi, yang disebut kalender Gregorian.
Di jaman Romawi, pesta tahun baru adalah untuk menghormati Dewa Janus (Dewa yang digambarkan bermuka dua—ini bukan munafik maksudnya, tapi merupakan Dewa pintu dan semua permulaan. Jadi mukanya dua: depan dan belakang, depan bisa belakang bisa, kali ye?). Kemudian perayaan ini terus dilestarikan dan menyebar ke Eropa (abad permulaan Masehi). Seiring muncul dan berkembangnya agama Nasrani, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai satu perayaan “suci” sepaket dengan Natal. Itulah sebabnya mengapa kalo ucapan Natal dan Tahun baru dijadikan satu: Merry Christmas and Happy New Year, gitu lho.
Sekalipun tahun baru dianggap sebagai hari suci bagi kaum Kristiani, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Amerika. Di Amerika Serikat, kebanyakan perayaan dilakukan malam sebelum tahun baru, pada tanggal 31 Desember. Orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisi dari Times Square di jantung kota New York, di mana banyak orang berkumpul. Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan dan orang-orang menerikkan “Selamat Tahun Baru” dan menyanyikan Auld Lang Syne.
Hal serupa diikuti oleh orang-orang di belahan dunia lainnya. Di bawah kapitalisme saat ini, tahun baru telah menjadi hari besar bagi seluruh umat manusia di dunia. Tidak ketinggalan orang-orang Islam pun ikut-ikutan. Ada yang sekedar kumpul-kumpul, tiup terompet, ikut serta di pesta hiburan hingga larut malam, yang cenderung penuh maksiyat. Berbagai event sengaja digelar, terutama disponsori oleh para kapitalis. Tujuannya selain meraup untung, juga merusak akidah generasi Muslim. Ini sejalan dengan skenario tokoh Yahudi Samuel Zweimer untuk merusak kaum Muslim.
“Yang perlu saudara-saudara perhatikan adalah bahwa tujuan misi yang telah diperjuangkan bangsa Yahudi dengan mengirim saudara-saudara ke negeri-negeri Islam, bukanlah untuk mengharapkan kaum Muslim beralih ke agama Yahudi atau Kristen. Tetapi tugasmu adalah mengeluarkan mereka dari Islam, menjauhkan mereka dari Islam, dan tidak berpikir mempertahankan agamanya. Di samping itu, saudara-saudara harus menjadikan mereka jauh dari keluhuran budi, jauh dari watak yang baik,” kata Zweimer, Ketua Umum Asosiasi Agen Yahudi saat membuka Konferensi Yerussalem, 1935, yang dihadiri oleh agen Yahudi dari seluruh dunia.
Hukum Merayakan Tahun Baruan: Haram
Ikut merayakan pesta tahun baru masehi tuh SGBBAH atawa sangat gak boleh banget alias haram. Duh, kok saklek banget sih? Udah jelas kan itu bukan dari ajaran Islam. Meskipun jutaan atau miliaran umat Islam di dunia ini merayakan tahun baru masehi dengan sukacita dan lupa diri larut dalam gemerlap pesta kembang api atau melibatkan diri dalam hiburan berbalut maksiat tetap aja nggak lantas menjadikan tuh perayaan jadi boleh atau halal. Sebab, ukurannya bukanlah banyak atau sedikitnya yang melakukan, tapi patokannya kepada syariat. Patokan benar salah tuh dari Al-Quran dan sunnah bukan dari banyak orang yang berbuat, oke?
Kaum Muslim dilarang menyerupai kaum kafir. Di antara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar mereka adalah firman Allah Swt.: “Dan orang-orang yang tidak memberikan perasaksian palsu” (QS al-Furqaan [25]: 72) Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat para hamba Allah yang beriman. Ulama-ulama Salaf seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan ar-Rabi' bin Anas menafsirkan kata "az-Zuura" (di dalam ayat tersebut) sebagai hari-hari besar orang kafir. Itu artinya, kalo sampe seorang muslim merayakan tahun baru masehi berarti melakukan persaksian palsu terhadap hari-hari besar orang kafir. Naudzubillahi min dzalik.
Padahal, kita udah punya hari raya sendiri, sebagaimana dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik ra, dia berkata, saat Rasulullah saw. datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari besar ('Ied) untuk bermain-main. Lalu beliau bertanya, “Dua hari untuk apa ini?” Mereka menjawab, "Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa jahiliyyah". Lantas beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya: Iedul Adha dan Iedul Fithri" (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya, No. 11595, 13058, 13210)
Terus, boleh nggak sih kita merayakan tahun baru karena niatnya bukan menghormati kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan agama Nasrani? Ya, sekadar senang-senang aja gitu, sekadar refreshing deh. Hmm.. ada baiknya kamu menyimak ucapan Umar Ibn Khaththab: “Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka” (Dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqy No. 18640). Umar ra. berkata lagi, "Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka" (ibid, No. 18641)
Dalam keterangan lain, seperti dari Abdullah bin Amr bin al-Ash ra, dia berkata, "Barangsiapa yang berdiam di negeri-negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festival seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka” ('Aun al-Ma'bud Syarh Sunan Abi Daud, Syarh hadits no. 3512)
Nah, berkaitan dengan larangan menyerupai suatu kaum (baik ibadahnya, adat-istiadatnya, juga gaya hidupnya), Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR Imam Ahmad dalam Musnad-nya jilid II, hlm. 50)
Tasyabuh atau menyerupai suatu kaum yang dilarang dalam al-Quran dan as-Sunnah secara syar’i adalah menyerupai orang-orang kafir dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang menunjukkan ciri khas mereka. Hmm.. catet ye!
Waduh, masa’ sih kita memulai bilangan tahun dengan dosa baru? Apalagi untuk dosa lama aja kita belum pernah melakukan tobatnya, tapi udah bikin dosa baru. Keterlaluan abis deh kalo sampe punya cita-cita seperti itu. Tapi kenyataannya, ternyata banyak di antara kita yang malah merayakan tahun baru masehi dengan melakukan aktivitas maksiat. Kasihan deh! Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR Ahmad)
So, sobat Muslim, kalo dah tahu merayakan tahun baru tuh haram, ya tinggalin. Jangan ikut-ikutan maksiyat. Buru-buru tobat. Karena waktu terus berjalan. Kita gak pernah tahu kapan ajal datang. Kalo malaikatul maut dah datang, sementara kita lagi pesta full maksiyat, bisa syu’ul khatimah. Gimana nanti di akhirat? Siapa pun pasti bakalan mati dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan kita. Apa kamu siap masuk surga?
Oke deh, bagi kamu yang ngaku Muslim sudah saatnya tinggalin tuh budaya sampah pesta tahun baru itu. Sudah saatnya tinggalin kemaksiyatan. Sudah saatnya kita kembali kepada Islam saja, bina diri kamu dengan Islam. Karena hanya dengan Islam yang akan memberikan cahaya kemuliaan hidup kamu. Mendingan kita muhasabah diri, sudah seberapa banyak amal kebaikan yang bakal disiapkan untuk masa di akhirat kelak. Sudah berapa banyak waktu kamu digunakan untuk menolong agama Allah, atau malah sehari-hari menginjak-injak aturan-Nya? [M]
*) Dari berbagai sumber
 |