Akibat pendidikan sekular = pemisahan agama dari kehidupan yang telah menjadikan agama dikebiri, dan nilai-nilai kebebasan diagungkan... hmmmm... tak akan lama kehancuran generasi datang... dan setelah generasi hancur tersebut, Allah pasti akan gantikan dengan generasi baru...
Ingat... internetisasi sekolah telah dipaksakan kepada siswa/siswi kelas sejak kelas 3 SMP, termasuk pemaksaan 'facebook', sementara pemerintah masih membiarkan kejahatan dan kerusakkan internet. Belum ada upaya menangkal kejahatan dari para perusak generasi melalui internet ini.
Bahkan, tak sedikit dari para 'pendidik' pun yang malah .... tidak memberikan contoh kepada anak didiknya...
Ini hampir sama dengan: pernikahan dini dilarang, sementara fakta-fakta yang menjurus kepada perzinahan dibiarkan
Semua kerusakkan ini, sekali lagi akibat sekularisme dan pengabaian terhadap aturan Allah Swt. niscaya, kehancuran generasi hanya menunggu waktu saja...
=========
Gara-Gara Facebook Dikeluarkan dari Sekolah
Tanjungpinang (ANTARA News) - Edy Trisno Arifin mengaku anaknya terpukul akibat dikeluarkan dari sekolah, setelah berkomentar di jejaring sosial "facebook" bersama tiga orang temannya yang dituduh menghina salah seorang guru.
"Anak saya sampai saat ini masih terpukul akibat kejadian itu," kata Edy di kediamannya Jalan Brigjend Katamso, Tanjungpinang, Sabtu.
Edy merupakan orang tua dari salah seorang siswa SMA 4 Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), yang dikeluarkan dari sekolah karena dituduh menghina salah seorang guru perempuan dengan kata-kata kotor.
Dia menuturkan, anaknya AN bersama tiga orang temannya MA, AR dan YK sudah berusaha meminta maaf kepada guru yang bersangkutan dan kepada pihak sekolah.
"Sampai tengah malam mereka dibantu teman-temannya berusaha mendatangi guru-guru di SMA 4 untuk meminta maaf, bahkan mereka mau bersimpuh di hadapan guru-guru tersebut meminta maaf dan menyatakan penyesalan, namun hanya sebagian guru yang bisa ditemui." ujarnya bersedih.
Yang lebih menyedihkan menurut dia, di saat dia dan istrinya melihat anak mereka hanya duduk di lantai depan kelas karena tidak diizinkan mengikuti pelajaran oleh wali kelas.
"Saya bersama ibu AN menangis di sekolah tersebut melihat anak saya tidak boleh belajar dan hanya duduk di depan teras ruang kelasnya," ujarnya sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya.
"Kami juga kecewa kenapa pihak sekolah tidak memberikan sanksi lain selain dikembalikan kepada orang tua, bukan kami membenarkan tindakan anak kami, karena guru adalah orang tua siswa di sekolah," katanya.
Edy mengaku masih trauma mengingat kejadian yang menimpa anaknya tersebut, namun merasa bersyukur anaknya masih diterima di salah satu SMA negeri di Tanjungpinang.
"Kami merasa bersyukur masih diterima di sekolah lain, karena sebelumnya salah seorang teman AN sempat ditolak oleh sekolah itu karena sekolah tersebut sudah mendapat laporan dari SMA 4 kalau anak-anak kami melakukan perbuatan itu," ujarnya.
Edy mengaku anaknya tersebut juga aktif di sekolah dan pernah menjadi utusan sekolah mengikuti lomba "grafity" tingkat SMA di Kabupaten Bintan dan mendapat juara pertama.
"Dia juga tercatat sebagai anggota Paskibraka Kota Tanjungpinang tahun 2009," ujarnya.
Dia berharap, guru-guru di sekolah proaktif dalam memberikan pengetahuan kepada siswa mengenai kerugian, bahaya maupun keuntungan dari jejaring sosial "facebook" tersebut, agar siswa dapat memahami.
"Sebagai orang tua di sekolah, hendaknya guru memberikan pemahaman kepada siswa mengenai bahaya maupun manfaat dari jejaring sosial "facebook" ataupun mengenai pengetahuan dalam mengakses "dunia maya" tersebut," harapnya.
(T.PK-NP/R009)
Sumber: Antara, 14 Februari 2010